Kesadaran akan pentingnya pemberian ASI secara eksklusif perlu terus ditanamkan pada setiap perempuan dan calon ibu. Tetapi sayangnya, masih ada saja anggapan keliru di masyarakat terkait pemberian ASI.
Padahal, pemberian ASI ekslusif akan memberikan keuntungan ganda baik bagi anda maupun bayi. Agar tidak ada lagi mitos keliru, berikut ini adalah beberapa hal-hal keliru yang dapat memicu kegagalan ASI. Mitos dan info keliru ini perlu diluruskan agar setiap bayi mendapatkan haknya meminum ASI dari ibunya :
1. Tanpa ASI anak tetap sehat
Jika dilihat dari luar memang tampak sehat. Tetapi tahukah Anda, bahwa bayi yang tidak mendapat ASI sebenarnya lebih rentan terpapar penyakit dan alergi seperti ekzema (radang kulit), rinitis alergik dan asma. Beberapa penelitian menunjukkan bayi yang tidak diberikan ASI lebih berisiko untuk mendapat diabetes dan obesitas dikemudian hari.
2. Payudara kecil berarti ASI sedikit
Ukuran payudara ditentukan oleh jaringan lemak, yang tidak terkait dengan produksi susu. Produksi susu tergantung pada ukuran kelenjar mamari di dalam payudara.
3. ASI bikin payudara kendur
Pemberian ASI tidak menyebabkan payudara menjadi kendur. Kendurnya payudara lebih disebabkan karena faktor usia dan gravitasi. Bahkan, pemberian ASI dapat membantu Anda mempercepat proses pelangsingan dengan membakar lemak yang tersimpan saat hamil. ASI eksklusif juga merangsang pengeluaran hormon yang membantu kontraksi dan mengembalikan rahim pada ukuran yang semula.
4. Memberi ASI menyakitkan
Sebenarnya tidak. Meskipun ada sejumlah ibu yang mungkin rasa sedikit bengkak pada tahap awal, tetapi kondisi ini tidak akan terus berlanjut. Jika Anda masih merasa sakit, ini mungkin disebabkan mulut bayi tidak menghisap puting dan areola dengan benar. Belajarlah untuk membantu bayi menyusu dengan cara yang benar.
5. ASI menyusahkan
Memberikan ASI sebenarnya memudahkan Anda. Anda tidak perlu membawa peralatan, tidak perlu khawatir tentang pasokan susu, penyimpanan dan penyediaan susu. Keuntungan lainnya, pemberian ASI bisa dilakukan setiap saat, di manapun dan tidak perlu biaya.
6. Sibuk bekerja
Pemberian ASI meskipun hanya beberapa minggu atau bulan, akan memberi manfaat kepada bayi. Pekerjaan bukanlah alasan bagi Anda untuk berhenti memberikan ASI. Minta bantuan kepada pembantu di rumah untuk memberikan ASI yang sudah terlebih dahulu diperah. Segera simpan ASI di lemari es agar tetap aman diminum bayi.
sumber : kompas.com
Jumat, 11 November 2011
Kamis, 10 November 2011
Inilah Reaksi Tubuh Saat Mengisap Rokok
Sebatang rokok yang diisap seseorang akan habis dalam 10 embusan dan dalam waktu lima menit. Akan tetapi, dalam tempo sesingkat itu ada 4.000 jenis zat kimia yang merasuki organ-organ tubuh. Lihat reaksi apa yang terjadi ketika kita merokok.
0-10 detik pertama
Pada isapan pertama, asap rokok akan masuk ke mulut dan meninggalkan lapisan cokelat tipis di gigi. Gas bersifat toksik seperti formalin dan amonia yang terhirup akan membuat sistem imun menjadi waspada sehingga terjadi inflamasi.
Begitu memasuki tenggorokan, asap rokok akan melambatkan cilia, alat penyapu kecil yang bertugas untuk membersihkan sistem pernapasan dari partikel berbahaya. Sementara itu, nikotin yang naik ke udara langsung masuk ke pembuluh darah melalui jutaan kapiler di dalam paru-paru.
Ketika nikotin memasuki kelenjar adrenal, tubuh akan merasakan sentakan energi yang memicu pengeluaran adrenalin sehingga tekanan darah dan detak jantung meningkat. Akibatnya, jantung kesulitan untuk mengendur di antara detak jantung sehingga risiko untuk terkena stroke pun meningkat.
Pada saat yang sama, karbon monoksida dari asap rokok akan mulai menumpuk di dalam darah sehingga kemampuan tubuh untuk mengirimkan oksigen ke organ vital berkurang.
Melalui peredaran darah, nikotin memasuki otak dan direspons sel saraf tertentu dengan cara pelepasan secara deras neurotransmiter dopamin yang memberikan perasaan enak. Ini sebabnya merokok menimbulkan rasa ketagihan.
Setelah 5 menit
Setelah level dopamin kembali normal, tubuh menginginkan perasaan high lagi meski kita tidak menyadarinya. Bila kita sering memuaskan keinginan tersebut, otak akan terbiasa dan mulai muncul rasa ketagihan. Akibatnya, akan sulit bagi Anda untuk berhenti merokok.
Meski rokok Anda sudah dimatikan, di dalam tubuh masih menumpuk kandungan beracun untuk 6-8 jam ke depan.
sumber : kompas.com
0-10 detik pertama
Pada isapan pertama, asap rokok akan masuk ke mulut dan meninggalkan lapisan cokelat tipis di gigi. Gas bersifat toksik seperti formalin dan amonia yang terhirup akan membuat sistem imun menjadi waspada sehingga terjadi inflamasi.
Begitu memasuki tenggorokan, asap rokok akan melambatkan cilia, alat penyapu kecil yang bertugas untuk membersihkan sistem pernapasan dari partikel berbahaya. Sementara itu, nikotin yang naik ke udara langsung masuk ke pembuluh darah melalui jutaan kapiler di dalam paru-paru.
Ketika nikotin memasuki kelenjar adrenal, tubuh akan merasakan sentakan energi yang memicu pengeluaran adrenalin sehingga tekanan darah dan detak jantung meningkat. Akibatnya, jantung kesulitan untuk mengendur di antara detak jantung sehingga risiko untuk terkena stroke pun meningkat.
Pada saat yang sama, karbon monoksida dari asap rokok akan mulai menumpuk di dalam darah sehingga kemampuan tubuh untuk mengirimkan oksigen ke organ vital berkurang.
Melalui peredaran darah, nikotin memasuki otak dan direspons sel saraf tertentu dengan cara pelepasan secara deras neurotransmiter dopamin yang memberikan perasaan enak. Ini sebabnya merokok menimbulkan rasa ketagihan.
Setelah 5 menit
Setelah level dopamin kembali normal, tubuh menginginkan perasaan high lagi meski kita tidak menyadarinya. Bila kita sering memuaskan keinginan tersebut, otak akan terbiasa dan mulai muncul rasa ketagihan. Akibatnya, akan sulit bagi Anda untuk berhenti merokok.
Meski rokok Anda sudah dimatikan, di dalam tubuh masih menumpuk kandungan beracun untuk 6-8 jam ke depan.
sumber : kompas.com
Rabu, 09 November 2011
Menguap Bisa Menular?
Ketika tubuh lelah atau otak memerlukan oksigen untuk tetap bekerja, kita akan menguap untuk mengikat lebih banyak oksigen dalam darah. Uniknya, jika kita melihat orang lain menguap atau bahkan hanya dengan membaca tulisan "menguap", kita pun seolah-olah tertular, ikut menguap.Menurut hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Child Development, kemampuan orang untuk tertular ini terkait dengan kemampuan sosialnya. Psikolog dari Universitas Connecticut meneliti 120 anak usia 1-6 tahun.
Pada saat membacakan sebuah cerita, pembaca akan berhenti dan menguap di depan anak-anak. Kurang dari 10 persen anak berusia di bawah 4 tahun membalasnya dengan ikut menguap. Pada anak yang lebih tua, respon menguap sangat signifikan terjadi, yaitu 35-45 persen.
"Kita mengetahul bahwa kehidupan sosial anak berkembang setelah beberapa tahun pertama," ujar Molly Helt, ketua penelitian tersebut, seperti dikutip laman Scientific American.
Dari penelitian tersebut diketahui, walaupun anak balita sangat sensitif terhadap ekspresi orang lain, otaknya belum dapat meniru orang lain secara tidak sadar. Pada orang dewasa hal ini lebih sering terjadi.
"Pada beberapa poin, kita seperti mengambil emosi orang lain tanpa pernah terpikirkan sebelumnya," ujarnya.
Pada penelitian kedua, para peneliti menggunakan anak-anak pengidap autisme sebagai partisipan dengan menggunakan skenario yang sama. Hasilnya, para ahli menemukan bahwa anak kecil pengidap autis tidak tertular menguap. Hanya 11 persen dari partisipan yang berumur 5-12 tahun yang tertular. Hal ini sangat berbeda pada anak-anak normal dengan umur sama, yakni terdapat 43 persen anak yang ikut menguap.
Walaupun anak autis tidak memiliki masalah dalam mengidentifikasikan ekspresi orang lain, otak mereka tidak dapat meresponnya. "Mereka tidak mengembangkan hubungan emosional dengan orang-orang di sekitarnya secara otomatis," ujarnya.
Helt juga mengatakan, hubungan antara kondisi otak yang mengatur kehidupan sosial pada tahun-tahun pertama kehidupan anak dapat diaplikasikan untuk mengetahui dan mencegah anak terkena autisme atau tidak.
sumber : kompas.com
Sel Otak Penyandang Autisme Lebih Banyak
Tabir misteri pemicu autisme pada anak semakin terkuak. Para ilmuwan dalam riset terbaru menemukan, anak-anak autis pada umumnya memiliki otak yang lebih berat dan sel-sel otak yang berlebihan.
Selama lebih dari satu dekade para ilmuwan memang sudah lama mencurigai bahwa gangguan autisme disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan otak yang tidak normal.
Studi sebelumnya menunjukkan, anak autis memiliki ukuran kepala lebih besar dan otak. Selain itu bagian otak yang penting untuk memroses emosi, komunikasi dan sosial berkembang berlebihan.
Dalam studi terbaru yang dimuat dalam the Journal of the American Medical Association para ilmuwan menegaskan hal tersebut.
Penelitian dilakukan pada otak 13 anak laki-laki usia 2-16 tahun. Otak mereka didonasikan untuk penelitian setelah anak-anak itu meninggal.
Menggunakan teknik mikroskopik para peneliti menghitung jumlah sel otak atau neuron di otak anak-anak itu. Sebanyak 7 anak menderita autisme dan 6 anak tidak.
Para ilmuwan menemukan bahwa otak anak autis memiliki neuron di area cortex prefrontal 67 persen lebih banyak. Area itu berkaitan dengan fungsi sosial, emosional dan proses komunikasi, fungsi yang terganggu pada anak autis. Otak anak autis juga memiliki berat 17,5 persen lebih berat dibanding anak tanpa gangguan ini.
Menurut Eric Courchesne, ketua peneliti, perkembangan neuron di area prefrontal cortex terjadi saat kehamilan. Saat janin berkembang di kandungan terjadi pertumbuhan berlebihan sel otak, terutama di usia 10-20 minggu kehamilan. Pertumbuhan itu diikuti oleh ledakan dan separuh sel-sel otak mati sehingga saat lahir bayi memiliki ukuran otak yang normal.
Para ilmuwan mengatakan siklus tersebut membuat otak mengatur dirinya dan sel-sel otak saling tersambung satu sama lain. Namun jika terjadi pertumbuhan berlebihan, koneksi antar sel otak ini akan terganggu.
"Sudah banyak bukti yang menyebutkan sambungan antar sel otak ini terganggu pada anak autis. Jika jumlah neuron banyak yang mati bagaimana mereka akan tersambung," kata Dr. Kate McFadden, neuropathologis dari Universitas Pittsburgh Medical Center.
Para pakar mengingatkan bahwa riset ini masih dalam tahap awal dan tidak bisa diterapkan pada anak-anak dan keluarga yang sekarang menderita autis. Meski demikian, hasil riset tersebut membuka harapan baru akan cara yang tepat untuk mendeteksi autisme.
Selama lebih dari satu dekade para ilmuwan memang sudah lama mencurigai bahwa gangguan autisme disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan otak yang tidak normal.
Studi sebelumnya menunjukkan, anak autis memiliki ukuran kepala lebih besar dan otak. Selain itu bagian otak yang penting untuk memroses emosi, komunikasi dan sosial berkembang berlebihan.
Dalam studi terbaru yang dimuat dalam the Journal of the American Medical Association para ilmuwan menegaskan hal tersebut.
Penelitian dilakukan pada otak 13 anak laki-laki usia 2-16 tahun. Otak mereka didonasikan untuk penelitian setelah anak-anak itu meninggal.
Menggunakan teknik mikroskopik para peneliti menghitung jumlah sel otak atau neuron di otak anak-anak itu. Sebanyak 7 anak menderita autisme dan 6 anak tidak.
Para ilmuwan menemukan bahwa otak anak autis memiliki neuron di area cortex prefrontal 67 persen lebih banyak. Area itu berkaitan dengan fungsi sosial, emosional dan proses komunikasi, fungsi yang terganggu pada anak autis. Otak anak autis juga memiliki berat 17,5 persen lebih berat dibanding anak tanpa gangguan ini.
Menurut Eric Courchesne, ketua peneliti, perkembangan neuron di area prefrontal cortex terjadi saat kehamilan. Saat janin berkembang di kandungan terjadi pertumbuhan berlebihan sel otak, terutama di usia 10-20 minggu kehamilan. Pertumbuhan itu diikuti oleh ledakan dan separuh sel-sel otak mati sehingga saat lahir bayi memiliki ukuran otak yang normal.
Para ilmuwan mengatakan siklus tersebut membuat otak mengatur dirinya dan sel-sel otak saling tersambung satu sama lain. Namun jika terjadi pertumbuhan berlebihan, koneksi antar sel otak ini akan terganggu.
"Sudah banyak bukti yang menyebutkan sambungan antar sel otak ini terganggu pada anak autis. Jika jumlah neuron banyak yang mati bagaimana mereka akan tersambung," kata Dr. Kate McFadden, neuropathologis dari Universitas Pittsburgh Medical Center.
Para pakar mengingatkan bahwa riset ini masih dalam tahap awal dan tidak bisa diterapkan pada anak-anak dan keluarga yang sekarang menderita autis. Meski demikian, hasil riset tersebut membuka harapan baru akan cara yang tepat untuk mendeteksi autisme.
Selasa, 08 November 2011
Kebiasaan Buruk yang Memengaruhi Kesehatan Gigi
anpa disadari, kadang kita punya beberapa kebiasaan buruk yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan gigi dan mulut secara umum, maupun spesifik. Menghilangkan kebiasaan buruk ini bukan hal yang mudah, tapi dapat dilakukan bila diniatkan dan punya kemauan ke arah yang lebih baik. Ini dia kebiasaan buruk yang dimaksud:
● Merokok
Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang paling buruk dan bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang, baik terhadap kesehatan gigi maupun rongga mulut. Merokok juga dapat menyebabkan noda pada gigi dan bau mulut. Efek jangka panjangnya, merokok dapat meningkatkan penyakit gusi serta memperlambat proses penyembuhan.
● ‘Bruxism’
Kebiasaan menggesek-gesekkan gigi antara gigi-geligi rahang atas dan rahang bawah, atau bruxism, biasanya terjadi secara tidak sadar ketika stres. Beberapa orang juga mengalaminya di saat tidur. Kebiasaan ini dapat membuat enamel permukaan gigi menjadi tipis, bahkan menimbulkan keretakan pada struktur gigi, serta merusak tambalan.
● Mengunyah makanan pada satu sisi
Beberapa orang mempunyai kebiasaan mengunyah makanan pada salah satu sisi saja. Kebiasaan ini umumnya disebabkan nyeri atau sakit pada salah satu gigi di sisi tertentu. Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya masalah serius atau kelainan pada sendi rahang.
● Menggigit benda keras
Kebiasaan ini biasanya merupakan penyaluran dari stres atau banyak pikiran. “Korban” gigitan biasanya pensil, pulpen, kuku, remote TV, atau benda-benda keras lainnya. hal ini dapat membuat permukaan gigi menjadi terkikis, bahkan keretakan pada struktur gigi.
● Menjadikan gigi sebagai gunting atau pembuka botol
Pernah lihat iklan pasta gigi di layar TV yang memperlihatkan orang-orang menggunakan gigi untuk membuka tutup botol, menyobek kemasan makanan, memotong label baju baru? Tugas berat semacam ini tidak pantas ditanggung oleh gigi-geligi, sebab akan merusak struktur.
Nah, demikian beberapa kebiasaan buruk yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut kita bila tidak diperhatikan. Mari mulai belajar menghilangkan kebiasaan-kebiasaan tersebut bila ingin gigi kita sehat dan kuat hingga tua.
sumber : yahoo.com
● Merokok
Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang paling buruk dan bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang, baik terhadap kesehatan gigi maupun rongga mulut. Merokok juga dapat menyebabkan noda pada gigi dan bau mulut. Efek jangka panjangnya, merokok dapat meningkatkan penyakit gusi serta memperlambat proses penyembuhan.
● ‘Bruxism’
Kebiasaan menggesek-gesekkan gigi antara gigi-geligi rahang atas dan rahang bawah, atau bruxism, biasanya terjadi secara tidak sadar ketika stres. Beberapa orang juga mengalaminya di saat tidur. Kebiasaan ini dapat membuat enamel permukaan gigi menjadi tipis, bahkan menimbulkan keretakan pada struktur gigi, serta merusak tambalan.
● Mengunyah makanan pada satu sisi
Beberapa orang mempunyai kebiasaan mengunyah makanan pada salah satu sisi saja. Kebiasaan ini umumnya disebabkan nyeri atau sakit pada salah satu gigi di sisi tertentu. Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya masalah serius atau kelainan pada sendi rahang.
● Menggigit benda keras
Kebiasaan ini biasanya merupakan penyaluran dari stres atau banyak pikiran. “Korban” gigitan biasanya pensil, pulpen, kuku, remote TV, atau benda-benda keras lainnya. hal ini dapat membuat permukaan gigi menjadi terkikis, bahkan keretakan pada struktur gigi.
● Menjadikan gigi sebagai gunting atau pembuka botol
Pernah lihat iklan pasta gigi di layar TV yang memperlihatkan orang-orang menggunakan gigi untuk membuka tutup botol, menyobek kemasan makanan, memotong label baju baru? Tugas berat semacam ini tidak pantas ditanggung oleh gigi-geligi, sebab akan merusak struktur.
Nah, demikian beberapa kebiasaan buruk yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut kita bila tidak diperhatikan. Mari mulai belajar menghilangkan kebiasaan-kebiasaan tersebut bila ingin gigi kita sehat dan kuat hingga tua.
sumber : yahoo.com
Senin, 07 November 2011
Penyakit jantung kini makin banyak diderita orang berusia produktif. Meski begitu sebenarnya penyakit ini bisa dicegah. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk menjaga kesehatan jantung.- Kurangi kalori
Ganti kebiasaan Anda mengonsumsi yang berkadar gula tinggi seperti minuman bersoda, jus atau sport drink dengan air putih. Penelitian menunjukkan orang yang memperoleh asupan kalori dari gula tambahan biasanya kurang mengonsumsi serat, kalsium, zat besi, dan vitamin dari makanan mereka. Makanan dan minuman yang mengandung banyak gula juga akan menyebabkan kita kegemukan sehingga lebih beresiko pada tekanan darah tinggi dan diabetes.
- Berhenti merokok
Berhenti merokok merupakan langkah utama untuk melindungi jantung. Di usia remaja, merokok dianggap sebagai hal yang keren, namun di usia 20-an, banyak orang yang merokok untuk menghilangkan stres. Menurut Malissa Wood, dari American Heart Association berhenti merokok di usia 20 tahun jauh lebih mudah di banding di usia selanjutnya.
- Ketahui riwayat keluarga
Bila ayah menderita serangan jantung sebelum usia 55 tahun dan ibu sebelum 65 tahun, atau ada anggota keluarga yang mati muda karena penyakit jantung, risiko Anda akan menjadi tinggi.
Di Usia 30 Tahun
- Jaga berat badan
Di usia 30 tahun biasanya tingkat ekonomi seseorang mulai mapan. Pastikan Anda tidak terlena dengan melupakan kesehatan. Lakukan olahraga secara rutin dan jaga asupan kalori.
- Kelola stres
Lakukan aktivitas yang Anda sukai setidaknya 15-20 menit setiap hari. Misalnya saja meditasi, membaca buku, atau bermain bersama hewan peliharaan. Kegiatan yang membuat Anda lebih rileks sangat disarankan untuk meredakan stres.
- Tes kesehatan
Lakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah kadar kolesterol dan gula darah Anda sesuai standar normal. Selain itu ukur pula tekanan darah dan berat badan secara teratur. Konsultasikan pada dokter langkah-langkah yang diperlukan bila hasil pemeriksaan Anda di luar batas normal.
sumber : kompas.com
Kamis, 03 November 2011
6 Manfaat Air Bagi Metabolisme
Anjuran untuk minum air sekurangnya dua liter atau sekitar delapan gelas per hari selalu dihubungkan dengan kesehatan manusia. Sebagai zat gizi, air mempunyai tugas penting bagi tubuh manusia. Berikut adalah fungsi air bagi tubuh yang disarikan dari buku Air Bagi Kesehatan.
1. Pembentuk sel dan cairan tubuh
Komponen utama sel, kecuali sel lemak, adalah air, yaitu 70-85 persen. Air berperan penting dalam pembentukan berbagai cairan tubuh, seperti darah, cairan lambung, hormon, enzim dan sebagainya. Selain itu air juga terdapat dalam otot dan berguna menjaga tonus otot sehingga otot mampu berkontraksi.
2. Pengatur suhu tubuh
Air menghasilkan panas, menyerap dan menghantarkan panas ke seluruh tubuh sehingga dapat menjaga suhu tubuh tetap stabil. Melalui produksi keringat yang sebagaian besar terdiri atas air dan garam, air turut mendinginkan suhu tubuh.
3. Pelarut
Air melarutkan zat-zat gizi lainnya dan membantu proses pencernaan makanan. Karena air merupakan zat anorganik, air tidak dicerna. Air dengan cepat melewati usus halus dan sebagian besar diserap kemudian turut berfungsi sebagai salah satu komponen mukus agar sisa zat makanan dapat keluar sebagai feses.
4. Pelumas dan bantalan
Air juga berfungsi sebagai pelumas atau lubrikan dalam bentuk cairan sendi, yang memungkinkan sendi untuk bergerak dengan baik dan meredam gesekan antar sendi. Air juga berfungsi sebagai bantalan tahan getar (shock absorbing fluid cushion) pada jaringan tubuh, misalnya pada otak, mata, medula spinalis, dan kantong amniom dalam rahim.
5. Media transportasi
Karena sturkturnya yang terdiri atas dua atom hidrogen dan satu atom oksigen, air mudah bergerak dari satu kompartemen sel ke komparatemen sel lainnya, dari satu sistem tubuh ke sistem lainnya. Air merupakan media transportasi yang efektif. Dalam sistem pernapasan, air membantu transportasi oksgien ke seluruh tubuh.
6. Detoksifikasi
Tubuh menghasilkan berbagai sisa metabolisme yang tidak diperlukan termasuk toksin. Berbagai sisa metabolisme itu dikeluarkan melalui saluran kemih, saluran cerna, saluran nafas, dan kulit, yang memerlukan media, yaitu air.
sumber : kompas.com
Selasa, 01 November 2011
MENGENAL DIABETES MELITUS TIPE 1
Gambaran Umum Diabetes Melitus Tipe 1
Menurut Slamet Suyono, dokter dan Guru Besar dari Pusat Metabolik dan Lipid, Subbagian Penyakit Dalam FKUI, di Indonesia pasien DM tipe 1 sangat jarang. Demikian pula di negara-negara tropis lain. Hal ini rupanya ada hubungannya dengan letak geografis Indonesia yang terletak di daerah katulistiwa. Dari angka kekerapan berbagai negara tampak makin jauh letanya suatu negara dari katulistiwa makin tinggi pravalensi DM tipe 1 nya.
Pada Diabetes Melitus tipe 1, terjadi perusakan sel-sel pancreas yang memproduksi insulin. Hal ini bisa terjadi akibat turunan (genetic) maupun reaksi alergi. Sebagai konsekuensi keadaan ini, insulin harus disuplai daru luar tubuh.
Kebanyak penderita penyakit ini sudah terdiagnosa sejak usia muda. Umumnya pada saat mereka belum mencapai usia 30 tahun. Karena sering juga diabetes ini disebut dengan diabetes yang bermula pada usia muda. Orang putih lebih sering terkena penyakit ini dan dari informasi di internet di Amerika Serikat terdapat sekitar 700.000 penderia DM tipe 1
Etiologi
Meskipun penyebab pasti dari diabetes tipe 1 ini belum diketahui namun ada beberapa faktor yang diketahui bisa mempengaruhi terjadinya penyakit ini seperti : keturunan, respon imunitas tubuh, virus, susu sapi, dan radikal bebas.
1. Keturunan
Faktor yang dianggap paling sering menyebabkan penyakit ini adalah genetic atau keturunan. Anak-anak dari orang tua penderita DM tipe 1 lebih cenderung mengidap penyakit ini dibandingkan dengan yang orang tuanya tidak menderita. Keompok/ras putih lebih sering dibandingkan dengan ras lainnya
2. Susu sapi
Dari internet diperoleh informasi bahwa kemungkinan DM tipe ini disebabkan karenan bayi diberi susu sapi terlalu cepat (pada bulan-bulan pertama). Anak-anak ini memiliki antibody (zat pertahanan tubuh) yang bisa menghancurkan protein di susu sapi. Sayangnya apda beberapa anak, sel pertahanan tersebut tidak bisa membedakan mana protein dari susu sapi mana sel-sel pancreas. Selain susu sapi, bebrpa bahan makanan yang bisa menimbulkan reaksi ini seperti gandung dan kacang kedele.
3. Faktor lain
Faktor-faktor lain yang termasuk mencetuskan DM tipe 1 adalah : infeksi virus, obat/zat kimia, dan radikal bebas
Patofisiologi
Terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel ? pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar akibatnya glukosa tersebut diekskresikan dalam urin (glukosuria). Ekskresi ini akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan, keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Pasien mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsi).
Tanda dan Gejala
Gejala dari penyakit ini adalah keadaan yang ditimbulkan akibat kadar glukosa darah yang tinggi yang biasa dijuluki dengan hiperglikemia. Orang yang mengalami hiperglikemi akan merasa lapar dan haus terus-menerus. Karena minum banyak, otomtis kencing juga banyak. Akan terjadi penurunan berat badan meskipun makannya banyak. Merasa selalu lelas dan lemas tak berenergi. Gejala yang lain, mata kabur dan nyeri hebat di daerah lambung.
Gejala permulaan ini kadang kala sukar ditemui pada penderita, terutama jika mereka masih dalam usia muda (anak-anak). Karena penderitanya biasanya anak-anak dan remaja, mereka terdiagnosa DM tipe 1 ini karena dibawa ke dokter akibat menderita dehidrasi berat, ketoasidosis diabetic (adanya keton, suatu zat racun yang membuat darah menjadi asam), atau karena koma diabetikum.
Anjuran Ahli Gizi
Ada tiga jenis pencegahan diabetes mellitus
1. Pencegahan primer
Tujuannya untuk mencegah terjadinya diabetes mellitus. Untuk itu, faktor-faktor yang dapat menyebabkan diabetes mellitus perlu diperhatikan, baik secara genetic maupun lingkungan. Berikut hal-hal yang harus dilakukan dalam pencegahan primer.
· Pola makan sehari-hari harus seimbang dan tidak berlebihan
· Olahraga secara teratur dalam batas normal
· Hindari obet-obatan yang dapat menimbulkan diabetes mellitus
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder tujuannya adalah mencegah agar penyakit diabetes mellitus yang sudah timbul tidak menimbulkan komplikasi penyakit lain, menghilangkan gejala, dan keluhan penyakit diabetes mellitus, terutama bagi kelompok yang beresiko tinggi terkena diabetes mellitus. Bagi yang dicurigai terkena diabetes mellitus, perlu diteliti lebih lanjut untuk memperkuat dugaan adanya diabetes mellitus.
Berikut hal-hal yang harus dilakukan dalam pencegahan sekunder
· Diet sehari-hari harus seimbang dan sehat
· Menjaga berat badan dalam batas normal
· Usaha pengendalian gula darah agar tidak terjadi koplikasi diabetes mellitus
· Olahraga teratur sesuai dengan kemampuan fisik dan umur.
3. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier bertujuan untuk mencegah kecacatan lebih lanjut dan komplikasi penyakit yang sudah terjadi (Hembing 2006).
Makanan yang perlu dihindari
Makanan-makanan tertentu jika dikonsumsi dapat menaikkan kadar gula dalam darah. olh karena itu, penderita diabetes harus berhati-hati dalam memilih dan mengkonsumsi makanan (Hembing 2006).
Bahan pangan kaya karbohidrat dapat membuat kerja organ pangkreas menjadi lebih berat. Dalam proses pencernaan makanan, karbohidrat akan segera diubah menjadi glukosa yang berakibat pada peningkatan kadar gula darah. selanjutnya, pangkreeas akan bereaksi mengeluarkan insulin, agar dapat menarik zat gula dalam darah dan menyimpannya dalam sel-sel otot dan hati sebagai sumber energi cadangan (glikogen) (Hembing 2006).
Zat tepung dalam ikatan karbohidrat yang terurai akan sangat cepat diubah menjadi glukosa dan menyebabkan kenaikan kadar gula darah sehingga pangkreas akan segera mengeluarkan insulin lebih banyak. Kecepatan pengeluaran karbohidrat menjadi glukosa hingga masuk ke dalam aliran darah disebut indeks glikemik (glycemik index/GI). Nilai indeks glikemik berkisar antara 0-100. Misalnya, nilai GI gula pasir dan sirup adalah 100 (Hembing 2006)
Pada tubuh orang sehat, pangkreas mampu memasok lebih banyak insulin untuk mengntisipasi membanjirnya glukosa dalam darah akibat asupan pangan kaya karbohidrat yang berlebihan. Dengan demikian, kadar gula darah akan tetap terkendali. Namun, bagi penderita diabetes mellitus yang mempunyai permasalahan dengan pangkreas yang mengalami hambatan dalam memproduksi insukin dalam jumlah memadai, sebaiknya perlu memperhatikan jenis makanan yang akan dikonsumsi (Hembing 2006)
Berikut makanan yang perlu dihindaru oelh penderita diabetes mellitus.
· Gula murni, seperti terdapat pada gula psir, gula jawa, dan sirup
· Madu, selai, manisan, jeli, permen, susu kental manis, minuman botol ringan, dan es krim
· Kentang, mengandung indeks glikemik tinggi sehingga mudah menaikan kadar gula darah
· Biscuit, kue-kue, roti manis, dodol, makanan yang digoreng, dan berlemak
· Susu fullcream yang dikonsumsi secara berlebihan
· Snack yang mengandung gula dan pemanis buatan yang tinggi kalori
· Pudding, sari buah, dan buah-buahan yang dikalengkan dalam larutan sirup
· Abon, dendeng, dan sarden
· Mentega dari lemak hewani dan minyak jenuh (Hembing 2006)
Langganan:
Postingan (Atom)



